Wahana Antariksa Akatsuki Milik Jepang Hilang Kontak

Akatsuki milik Badan Antariksa dan Eksplorasi Jepang (JAXA) sirna kontak sejak April 2024 lalu. Wahana antariksa Akatsuki sirna kontak ditengah misinya mengorbit pada Venus.

Menginformasikannya website Space pada Rabu (05/06/2024), JAXA kehilangan kontak dengan Akatsuki sesudah operasi pada akhir April karena mode kontrol stabilitas sikap yang rendah. Ketika ini, JAXA tengah berusaha mengaitkan komunikasi pada Akatsuki kembali.

Akatsuki ialah misi Jepang yang bertujuan mempelajari iklim di Venus. Ketika ini, Akatsuki ialah satu-satunya wahana antariksa aktif yang mengorbit di sekitar planet hal yang demikian.

Wahana antariksa senilai US$300 juta (setara Rp4,8 triliun) ini diluncurkan pada 2010. Tapi, Akatsuki mengawali penjelajahannya di luar angkasa dengan kurang bagus.

Wahana ini gagal menjelang orbit di sekitar Venus karena terjadi persoalan pada mesin utamanya. Tapi, regu misi berhasil membikin kans kedua pada 2015 sesudah lima tahun mengorbit pada sang surya dan berhasil menjelang orbit.

Wahana antariksa Akatsuki yang juga dikenal sebagai Venus Climate Orbiter ini telah mengerjakan penelitian sejak dikala itu. Wahana ini mengerjakan beberapa pengamatan yang tidak terduga.

Akatsuki, yang berarti fajar dalam bahasa Jepang, telah berhasil menyelesaikan misi slot gacor 777 utamanya. Menginformasikannya website Live Science ada Rabu (05/06/2024) wahana antariksa ini mengawali fase operasi yang diperpanjang pada 2018.

Walaupun Akatsuki tidak bisa diselamatkan kali ini, misi hal yang demikian telah menandakan kesanggupan pemecahan persoalan para insinyur JAXA. Misi ini meningkatkan pemahaman manusia tentang iklim dan dinamika atmosfer Venus.

Malah sekiranya Akatsuki benar-benar mati, planet Venus tidak akan benar-benar lepas dari pengamatan para astronom. Misi-misi baru, terutama dari NASA, Badan Antariksa Eropa, India, dan sebuah misi swasta, bisa jadi akan menuju Venus di akhir dekade ini.

Seputar Venus
Venus ialah planet terpanas di tata surya kita, dengan temperatur permukaan rata-rata menempuh 462 derajat Celcius. Walaupun Venus berada lebih jauh dengan sang surya daripada Merkurius, Venus memiliki temperatur permukaan jauh lebih tinggi daripada Merkurius yang ialah planet terdekat dengan sang surya.

Fenomena ini mewujudkan Venus sebagai tempat dengan temperatur tertinggi di antara segala planet di tata surya. Ada beberapa faktor menyebabkan Venus menjadi demikian itu panas.

Salah satunya ialah efek rumah kaca benar-benar kuat di atmosfer Venus. Atmosfer Venus terdiri terutama dari gas karbon dioksida (CO2) tepat sasaran menahan panas dari sang surya dan mewujudkan efek pemanasan signifikan di planet ini.

Pengerjaan ini dikenal sebagai efek rumah kaca karena gas-gas atmosfer Venus seperti lapisan kaca membiaskan cahaya sang surya tapi menahan panas di dalamnya. Kecuali itu, tekanan atmosfer di permukaan Venus juga benar-benar tinggi, lebih dari 90 kali tekanan atmosfer bumi pada permukaan laut.

Kombinasi temperatur tinggi dan tekanan atmosfer ekstrem mewujudkan keadaan benar-benar tidak ramah bagi kehidupan seperti di Bumi. Walaupun ini membikin Venus menjadi salah satu tempat paling tidak pantas huni di tata surya.

Studi lebih lanjut tentang atmosfer Venus, termasuk komposisi dan dinamika termalnya, terus dilaksanakan oleh para peneliti untuk memahami mekanisme menyebabkan temperatur permukaan ekstrem. Planet Venus memiliki beberapa kesamaan dengan planet Bumi.

Venus memiliki diameter hampir sama dengan bumi, hal ini menjadikannya planet dengan ukuran terbesar kedua sesudah Jupiter. Venus ataupun Bumi memiliki lapisan atmosfer dan permukaan padat.

Walaupun keadaan Venus benar-benar berbeda dan ekstrem dibandingi dengan Bumi. Kecuali itu, Venus dan Bumi juga memiliki struktur internal mirip.

Venus ataupun Bumi memiliki inti besi padat di pusatnya, lapisan mantel di sekitarnya dan kerak batuan di permukaannya. Tapi, perbedaan penting berlokasi pada keadaan permukaan dan atmosfer Venus benar-benar berbeda dengan bumi.

Sama seperti bumi, Venus juga mengalami perubahan cuaca dan sistem iklim. Venus memiliki siklus cuaca rumit, termasuk awan-awan tebal terdiri dari asam sulfat di atmosfernya.