Legenda Jati Denok Blora: Konon Tempat Sembunyi Putri Kediri-Dijaga Harimau

Legenda Jati Denok Blora

Di Blora, tersedia legenda perihal Jati Denok yang konon jadi daerah persembunyian putri dari Kediri, dan juga dijaga oleh sesosok harimau. Bagaimana kisahnya? Jati Denok di Banjarjero, Blora tidak cuman jadi primadona karena usianya yang mencapai ratusan tahun juga karena legendanya di masyarakat. Selain itu, disini kami juga akan membahas tentang permainan judi online yang tersedia di link situs https://www.bistrokingenglewood.com/

Konon di daerah tersebut dulu jadi daerah berlindung putri Kediri yakni Candra Kirana untuk bersembunyi. Selama persembunyiannya sang putri juga dijaga oleh seekor harimau yang dikenal sebagai raja rimba.

Seorang pemerhati peristiwa asal Blora, Totok Supriyanto yang juga seorang penulis sejarah, yakin hal itu. Jati Denok tumbuh berada di hutan belantara yang meliputi sebagian lokasi pedukuhan di Kecamatan Banjarejo Blora.

“Berdasarkan legenda di lokasi Banyuurip (Dukuh di Desa Banjarejo) tersedia seorang bernama Candra Kirana. Dia adalah seorang putri Kediri yang lari dari kerajaan,” ucapnya kala ditemui di rumahnya di Blora, Jumat (29/3) lalu.

Pelarian Candra Kirana menjadikan semua orang-orang kerajaan bergerak melacak keberadaannya. Salah satu tokoh yang mencarinya adalah Raden Panji Inu Kertopati.

“Akhirnya keluar banyak tokoh yang mencari, keliru satunya Raden Panji Inu Kertopati yang melacak Candra Kirana untuk dijadikan istri,” papar Totok.

Totok menjelaskan, untuk tahun kejadiannya tidak mampu dipastikan masanya. Menurutnya, yang namanya legenda itu tidak mampu ditentukan tahun masanya. Dalam urusan legenda seorang putri raja diyakini tetap dijaga oleh harimau.

“Candra Kirana tinggal di Banyuurip di sedang hutan belantara, hutan jati. Yang dijaga oleh hewan harimau. Cerita ini sesudah itu masyhur dil lakon barongan Blora,” jelasnya.

Cerita lakon Blora banyak diambil alih dari cerita hewan buas penjaga hutan yakni harimau. Siapapun yang hendak melacak Candra Kirana mesti siap berhadapan bersama dengan keganasan harimau.

“Siapapun yang menemui Candra Kirana mesti berhadapan bersama dengan harimau yang memelihara hutan jati ini. Termasuk di dalamnya jati denok,” jelasnya.

Sebagai informasi, Jati Denok tumbuh di petak 62B, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Temetes, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanjang, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung. Tepatnya berada di hutan lokasi Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.

Bentuknya yang tidak bulat, terkandung sebagian cekungan terhadap pohon ini. Cekungan paling banyak yakni di anggota pangkal. Jati denok punyai lingkar keliling lebih kurang 9 mtr. dan perlu setidaknya tujuh rentangan tangan manusia dewasa untuk mencakupnya. Batangnya menjulang tinggi ke langit lebih kurang 30 meter. Pohon tua berusia ratusan tahun ini saat dirupiahkan mencapai miliaran.

Untuk menuju web budaya jati denok ini memerlukan perjalanan sejauh 17 kilometer dari pusat kota. Lebih dari 4 kilometer perjalanan terakhir, jalan tetap bebatuan, sebagian udah dibangun berbentuk makadam, tersedia juga susunan batu yang tidak teratur sebabkan perjalanan mesti ekstra hati-hati.

Keberadaan jati denok berada di sedang hutan yang dikelola oleh Perhutani. Batang besar jati denok punyai tinggi lebih kurang 30 mtr. bersama dengan keliling batangnya mencapai 6,5 meter.

Jati denok berada di atas bukit kendeng Blora. Lokasinya paling tinggi, berada di tengah-tengah antara Blora dan Randublatung. Ketika menyaksikan ke arah selatan mampu menyaksikan lembah Randublatung dan saat menyaksikan utara mampu menyaksikan lembah Blora.

Sekitar jati denok dikelilingi dua pohon jati yang lumayan besar, namun karena dekat bersama dengan jati denok, pohon itu keluar kecil. Ada juga pohon sono keling. Sering kali pohon jati berukuran jumbo ini tersambar petir, sampai rusaknya terjadi terhadap batang pohon.

Pada batangnya keropos dan lapuk, tengahnya bolong. Tidak tersedia cabang batang yang besar akibat tersambar petir. Hanya keluar cabang-cabang kecil di pucuk pohon. Itu pun tidak tersedia daun. Sedikit sekali daun yang tumbuh bersama dengan ukuran yang sedikit kecil. Melihat keadaan pohon jati denok ini, dimungkinkan lambat laun akan mati.

Jati denok juga udah sukses menyabet rekor MURI berusia 356 tahun terhadap 23 Juni 2008 lalu. Pemecahan rekor MURI itu digagas oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Blora di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora.